November 15, 2015

Tips Mengurangi Ketergantungan Dengan Smartphone



Beberapa waktu yang lalu, saya memiliki reputasi yang luar biasa dengan HP, saya selalu membawanya nyaris hampir dalam setiap kesempatan. Saya akan lebih senang memasang earphone di telinga dan mendengarkan sesuatu ketimbang berinteraksi dengan orang-orang yang ada di sekitar, misal, saat menunggu dosen, saya lebih suka mendengarkan percakapan berbahasa inggris di HP maupun di gadget lain yang saya bawa. Begitu juga di tempat yang saya tidak mengenal siapa pun, saya lebih asik bermain dengan HP, mengecek berbagai macam aplikasi yang ada, membalas komentar-komentar di FB, twitter, instagram, dan lain sebagainya, nyaris tidak banyak interaksi dengan orang-orang yang ada di sekitar saya, pun demikian dengan orang-orang yang ada di sekeliling saya, nyaris sama, semua sibuk dengan HP masing-masing.
Kemudian saya merenung lama mengenai hal ini.
Membuat Beberapa Aturan Dalam Menggunakan HP
Ketika saya menyadari bahwa ini adalah sebuah masalah yang tidak bisa saya biarkan begitu saja, saya membuat berbagai macam peraturan tentang bagaimana, kapan, dan dimana saya menggunakan HP. Membuat beberapa peraturan buat diri sendiri ini sungguh sangat membantu saya dalam mengurangi kecanduan dengan HP dan membuat saya bisa melakukan banyak hal lain ketimbang asik dengan HP, dan mungkin saja ini bisa membantumu juga. Ini beberapa list yang saya buat:
*      Tidak menggunakan HP pada social events, kecuali saya memang perlu menelpon seseorang, saya sedang mencari informasi tentang kegiatan grouf (cth. Siapa aktor di film itu, bagaimana menuju restaurant?), saya hanya share sesuatu dengan HP pada orang-orang yang sedang bersama saya, misal teman minta pin BB, no WA, minta foto dan sebagainya. Saya fokus berinteraksi dengan orang-orang yang ada di sekeliling saya, bukan dengan HP.
*      Tidak menjawab calls or text messages ketika sedang bertemu dengan teman-teman kecuali saya memang sedang menunggu telepon dari seseorang yang memang penting atau seseorang yang menelpon terus menerus dan tidak berhenti sampai saya menjawab.
*      Saya bisa menggunakan HP di stoplights, dan hanya untuk mengecek arah atau mengganti musik.
*      Saya tidak menggunakan HP ketika sedang dalam interaksi singkat dengan seseorang atau short-term interactions (e.g. checking out at the grocery store).
*      Saya tidak perlu menggunakan HP ketika sedang mengikuti perkuliahan, mengajar, atau mengikuti seminar. Saya tidak perlu sibuk share foto ke social media ketika sedang mengikuti kegiatan-kegiatan di atas yang justru akan merusak konsentrasi saya.
*      Saya tidak menggunakan HP ketika menjelang tidur. HP sudah harus non aktif minimal 30 menit sebelum saya tidur.
Saya tidak selalu mengikuti aturan yang saya buat secara sempurna, akan tetapi saya berusaha mengingatkan diri saya sendiri pada situasi yang akan datang dan ini cukup membantu saya meminimalisir penggunaan HP.
Ketika kamu membuat beberapa peraturan tentang penggunaan HP pada diri sendiri, kamu harus menyadari tujuan yang ingin kamu capai dari adanya aturan-aturan yang telah dibuat. Mengapa kamu mau berhenti menggunakan HP yang terus menerus? Kapan menggunakan HP menjadi sebuah permasalahan yang betul-betul mengganggu? Kapan menggunakan HP bisa mengganggu orang lain atau setidaknya terlihat membuat orang terganggu? Menjawab beberapa pertanyaan ini bisa membantumu membuat peraturan-peraturan yang cocok buat kamu. Ketika kamu sudah mendapatkan list yang kamu perlukan, tanamkan semuanya pada dirimu sebelum kamu pergi into any relevant situation. Ini mungkin terlihat sedikit aneh, tapi ini membantumu mengingat tujuan yang ingin kamu capai.
Mengatur Profiles Untuk Mengurangi Gangguan
Cara lain untuk mengurangi interaksi dengan HP adalah mengatur mode yang menonaktifkan semua notifikasi. Awalnya, saya mengatur getar sebagai tanda ada notifikasi email, social media, maupun calls or text messages. Selanjutnya, saya benar-benar mengatur HP menjadi 100 % silence, tanpa getar, jadi saya tidak perlu merasa terganggu dengan getar-getar yang berasal dari berbagai notifikasi yang ada, karena kadang tidak semuanya penting, malah hanya sekadar si A menulis sesuatu di Wall Facebookmu, komentar, dsb, tidak ada yang benar-benar urgent untuk direspond saat itu juga. Dengan cara ini cukup meminimalisir penggunaan HP.
Kunci HP Dengan Password Yang Cukup Panjang
Password memang penting untuk menjaga kerahasiaan data-data yang ada agar tidak dibuka sesuka hati oleh orang lain. Akan tetapi, jika kamu terlalu sering melanggar daftar list yang sudah kamu buat dan butuh cara extra untuk mengatasinya, maka password yang panjang bisa menjadi salah satu trik. Saya tidak pernah membutuhkan ini, karena saya tidak suka menulis password di HP meskipun cuma pendek. Akan tetapi, saya mencoba untuk mengunci HP saya dengan password yang cukup panjang. Memasang password yang panjang tentu saja membutuhkan waktu untuk mengetiknya di layar HP mu. Coba buat password yang terdiri dari 20 karakter, campuran antara huruf dan angka. Memasukkan passwrod panjang sangat melelahkan dan membuat frustasi. Lelah menulis password yang panjang seharusnya keep you off your phone and train you to just ignore it unless you really do need to use it.
Jangan Mengharap Perubahan Secara Instant
Finally, don't expect things to change overnight. Meskipun menjadi ketergantungan dengan HP merupakan sebuah masalah, tentu saja semua memerlukan proses yang tidak sebentar. Di awal-awal waktu, mungkin akan terasa berat sekali melepaskan sesuatu yang sudah menjadi rutinitas harian, yang selama ini menjadi bagian besar dari keseharian. Semua kembali kepada apa tujuanmu mau mengurangi interaksi dengan HP. Semakin tahu tujuan yang ingin dicapai, semakin tahu bagaimana membuat aturan-aturan untuk diri. Yang terpenting, jangan sampai HP menjadikan hidupmu jauh dari interaksi sosial,  It's primary purpose is to connect you with people, so you never want to forget to do that when people are around you.
Sampai hari ini, sudah hampir satu bulan saya berhasil mengurangi interaksi dengan HP, semoga kedepannya tetap istiqamah, karena banyak hal positif lain yang bisa saya lakukan. Hidup saya menjadi lebih anteng, tidak ribet dengan HP yang selama ini menjadikan saya anti sosial.

Bagaimana dengan kamu?

Muhasabah Diri, Untuk Masa Depan Lebih Indah

Kehidupan di dunia adalah perjalanan panjang menuju kehidupan kekal nan abadi, yakni akhirat. Laiaknya sebuah perjalanan, maka perlu adanya persiapan dalam menempuh perjalanan menuju akhirat. Persiapan yang dimaksud adalah menyiapkan bekal ibadah sebanyak-banyaknya dalam rangka meraih keridhaan Allah SWT. Dalam mempersiapkan diri, perlu adanya Muhasabah terus menerus, yakni evaluasi diri, sejauh mana persiapan sudah dipersiapkan.
Muhasabah berasal dari akar kata hasiba-yahsabu-hisab, yang artinya secara etimologis adalah melakukan perhitungan. Dalam terminologi syar’i, pengertian muhasabah adalah sebuah upaya evaluasi diri terhadap kebaikan dan keburukan dalam semua aspeknya.
Muhasabah menjadi perlu sebagai langkah menjadikan diri lebih baik lagi. Tidak ada manusia yang sempurna di muka bumi ini, kesempurnaan hanyalah milik Allah SWT. Muhasabah diri mengajarkan manusia menjadi hamba yang lebih baik lagi dari sebelumnya, ia mengambil pelajaran dari apa-apa yang sudah dilakukan. Muhasabah diri tidak hanya pada hubungan antara hamba dengan Sang Pencipta, melainkan juga antar sesama manusia. Muhasabah merupakan evaluasi secara total, adakah amaliah yang dilakukan karena Allah sehingga kebiasaan menjadi ibadah, ataukah sekedar ibadah kebiasaan yang wujudnya rutinitas? Apakah amaliah yang dilakukan sudah maksimal? Atau justru sebaliknya.
Begitu juga dengan sesama manusia, perlu adanya evaluasi diri dalam menjalani kehidupan sosial. Perlu adanya perbaikan dari waktu ke waktu, sehingga tercipta kehidupan sosial bermasyarakat yang bermartabat yang menjunjung tinggi nilai-nilai kebaikan. Ketika semua orang selalu berusaha untuk mengevaluasi diri dalam rangka menjadi lebih baik lagi, maka disinilah letak kehidupan sesungguhnya, kehidupan yang selalu berusaha menjadi pribadi-pribadi yang baik dari waktu ke waktu.
Kehidupan ini hanyalah sementara waktu, detik berganti menit, hari selalu berganti, tahun pun berganti, hingga nanti semua yang hidup akan berada pada titik akhir kehidupan, tidak ada lagi kesempatan untuk evaluasi diri. Maka, sebelum kehidupan ini sampai pada batas akhir, lakukanlah evaluasi diri, mengkaji bagaimana perjalanan ini sudah dilalui, apakah sudah dijalan yang telah Allah tentukan? atau malah melenceng jauh dari-Nya?
Allah SWT., berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. al-Hasyr: 18 )
Firman Allah di atas merupakan perintah untuk bertakwa kepada-Nya, yang mencakup pelaksanaan perintah-Nya dan penghindaran dari larangan-Nya. Selain itu, Allah memerintahkan untuk evaluasi diri, lihatlah amalan apa yang telah disimpan dan disiapkan untuk bekal hari kiamat. Ayat inilah yang menjadi dasar utama dalam muhasabah diri. Ini jelas menunjukkan bahwa Allah menghendaki hamba-hamba-Nya untuk selalu mawas diri, merutinkan intsrospeksi diri, sebagai wujud ketaatan kepada-Nya.
Tidak ada keterangan rinci mengenai tata cara, waktu, mekanisme dan teknis muhasabah. Namun demikian, keterangan tersebut di atas menunjukkan bahwa muhasabah merupakan amalan yang diperintahkan kepada setiap muslim secara sendiri-sendiri. Setiap pribadi bisa muhasabah dirinya sendiri, mengukur sejauh mana amal perbuatan yang sudah ia lakukan dalam hidupnya.
Kesadaran diri mengevaluasi ulang amal perbuatan di masa lalu demi memperoleh kualitas hidup lebih baik inilah yang mengilhami Umar bin Khattab ra. berujar:
Bermuhasabalah atas diri kalian sendiri sebelum kalian dihisab pada hari kiamat, dan timbanglah amal kalian di dunia ini sebelum nanti ditimbang pada hari kiamat. Sesungguhnya kalian akan merasa ringan dengan bermuhasabah pada hari ini untuk menghadapi hisab kelak. Dan berhiaslah kalian (dengan amal sholeh) untuk menghadapi hari pameran agung. Pada hari itu perbuatan kalian akan ditampilkan tidak ada yang tersembunyi sedikitpun. “
Muhasabah bisa dilakukan sebelum beramal, maupun sesudah beramal. Ketika muhasabah dilakukan sebelum beramal, maka ini merupakan bagian dari memastikan bahwa amal perbuatan yang dilakukan murni karena Allah SWT., bukan karena ingin mendapatkan pujian dari manusia. Begitu juga ketika sudah beramal, muhasabah dilakukan untuk mengevaluasi bagaimana amal perbuatan yang sudah dilakukan, apakah sudah baik dan sesuai dengan ketentuan yang Allah tentukan? atau malah sebaliknya. Disinilah peran penting muhasabah diri sebagai bagian dari mengukur diri, sebagai kontrol diri agar menjadi lebih baik lagi dari sebelumnya.
Sedemikian pentingnya evaluasi diri, menjadikan para salafush shalih banyak berkomentar tentangnya.
Berkata Imam Hasan al-Bashri :
Sesungguhnya seorang hamba akan selalu dalam keadaan baik selama dia mempunyai penasehat dari dirinya sendiri, dan selalu bermuhasabah diri.“
Maimun bin Mahran berujar :
Seorang hamba akan menjadi takwa jika muhasabah (evaluasi diri) lebih akrab baginya daripada kawan akrabnya.”
Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa evaluasi diri adalah sebagai berikut:
Pertama: Memulai yang wajib; jika seseorang melihat ada kekurangan, ia menambahnya. Kedua: Mencermati larangan; jika seseorang tahu bahwa ia melakukannya, ia menyusulinya dengan taubat, istighfar, dan kebaikan-kebaikan yang dapat menghapus dosa tersebut. Ketiga: Evaluasi atas kelalaian, dan ia menyusulinya dengan zikir, menghadap Allah pencipta langit dan bumi, dan pencipta Arsy yang Mahaagung. Keempat: Evaluasi atas gerak-gerik anggota badan, pembicaraan lisan, perjalanan kedua kaki, gerak kedua tangan, pandangan kedua mata, pendengaran kedua telinga, apa yang kuinginkan dengan ini? Untuk siapa aku melakukan? dan bagaimana aku melakukan?

Maka demikianlah seharusnya seseorang mengevaluasi dirinya, nafas demi nafas dan juga kemaksiatan yang terkandung dalam hati di setiap waktu. Seorang mukmin dianjurkan menuju kesempurnaan dan menggapai derajat tinggi, maka ia harus mencermati aktivitasnya, ia mengawasi niat dan kehendaknya, amal dan aktivitasnya. Ia tidak basa-basi atau sungkan terhadap dirinya sendiri, terlebih menganggap dirinya suci dengan beranggapan apa yang dilakukannya sudah cukup.