April 09, 2016

Pentingnya Pendidikan Agama Bagi Anak Berkebutuhan Khusus


Anak berkebutuhan khusus (ABK) adalah mereka yang mempunyai hambatan fisik dan atau mental sehingga memerlukan layanan khusus untuk dapat mengoptimalkan potensi yang ada dalam dirinya. Karakteristik penyandang cacat atau anak berkebutuhan khusus menurut Kauffman & Hallahan adalah: tunagrahita (mental retardation), kesulitan belajar (learning disabilities), hyperactive (attention deficit disorder with hyperactive), tunalaras (emotional or behavior disorder), tunarungu wicara (communication disorder and deafness), tunanetra (partially seing and legally blind), anak autistik (autistic children), tunadaksa (physical disability), tunaganda (multiple handicapped), dan anak berbakat (giftedness and special talents).
Sudah disepakati oleh masyarakat di dunia, bahwa setiap anak harus memiliki hak untuk mendapatkan pendidikan. Berkaitan dengan hal tersebut UNESCO mengadakan sebuah konferensi yaitu, The Salamanca World Conference on Special Needs Education pada tahun 1994. Pada paragraf ketiga dari The Salamanca Statement and Framework for Action on Special Needs Education yang dihasilkan dari konferensi tersebut disepakati bahwa:
“…schools should accommodate all children regardless of their physical, intellectual, social, emotional, linguistic or other conditions. This should include disabled and gifted children, street and working children, children from remote or nomadic populations, children from linguistic, ethnic or cultural minorities and children from other disadvantaged or marginalized areas or groups…” 
Poin tersebut secara langsung memberikan kewajiban kepada sekolah untuk mengakomodasi seluruh anak termasuk anak-anak yang memiliki kelainan fisik, intelektual, sosial, emosional, linguistik maupun kelainan lainnya. Sekolah-sekolah juga harus memberikan layanan pendidikan untuk anak-anak yang berkelainan maupun yang berbakat, serta anak-anak yang berasal dari golongan-golongan termajinalkan yang lain. Sejalan dengan hal tersebut, UNESCO mencetuskan prinsip “pendidikan untuk semua” atau Educational for All. Prinsip Educational for All tersebut mengandung makna bahwa pendidikan tersedia untuk semua tanpa memandang perbedaan, atau wajib mengakomodasi keberagaman kebutuhan siswa yang normal maupun yang memiliki kebutuhan khusus. Filosofi Educational for All lahir sebagai konsekuensi logis dari adanya pernyataan Salamanca yang menegaskan perlu adanya penyelenggaraan pendidikan yang inklusi dan tidak diskriminatif.
Di antara pendidikan yang sangat penting bagi anak berkebutuhan khusus adalah Pendidikan Agama. Pendidikan bagi special needs students sangat membutuhkan role models, begitu pun dengan pendidikan Agama. Karena kebanyakan ASN "susah" menerima deskripsi mengenai hal-hal yang berbau abstrak, maka role models ini sangat dibutuhkan bagi Mereka. Menerangkan tentang keberadaan Allah, surga, neraka, pahala dan dosa adalah hal-hal yang paling sulit untuk mereka pahami bila hanya didiskripsiksan. Uswah dan Qudwah dari para pendidik yaitu orangtua, guru dan masyarakat memegang peranan amat penting bagi perkembangan ASN.
Islamic Habit Forming tidak akan berjalan dengan baik jika role models yang ada di sekitar mereka tidak kondusif mendukungnya. Contoh: mengajarkan shalat, tidak akan sampai ke memori mereka jika role models tidak menjalankannya dengan istiqamah. Pelajaran yang perlu juga adalah mengenai sex education secara islami. Misal, mempersiapkan mereka ketika masuk usia baligh yaitu wet dream dan haid. Sejak awal mereka harus diajarkan tentang Aurat, diawali dengan pengenalan public and private room, mana yang boleh mana yang tidak, pengenalan organ tubuh dan lain sebagainya. Bagi ASN baligh secara bioligis belum tentu dia mumayyiz, karena banyak yang mature age-nya sangat jauh intervalnya dengan calender age, terutama ketika situasi-situasi kritis semacam sedang panik, ketakutan ataupun sedang punya masalah yang tidak mampu ia ungkapkan.

Jika menilik di teori psikologi sekuler, onani diperbolehkan bagi ASN, padahal ini bertentangan dengan apa yang diajarkan dalam Islam. Para psikolog sekuler tidak merekomendasikan mengajarkan agama bagi ASN terutama untuk anak-anak Autis. Padahal agama adalah Fitrah, bisa dijalankan oleh semua manusia sesuai kondisinya "mastatho'tum". Ini prinsip. Jika ingin menerangkan tentang keberadaan Allah maka terangkan tentang penciptaanNya bukan DzatNya. Salah satu yang agak sulit untuk dijelaskan kepada ASN adalah masalah dosa dan pahala, karena konsep Punish and Reward agak sulit bagi mereka untuk mencerna, tapi bisa diterangkan. Ini merupakan tantangan bagi kita semua, jika bisa menghasilkan karya tentang pendidikan Agama bagi ASN, insya allah manfaatnya sangat besar sekali bagi mereka dan dunia pendidikan, jangan sampai mereka "buta" di dunia juga "buta" di akhirat.

8 comments:

  1. agama adalah hal yang paling mendasari manusia untuk kehidupan ketika dia dewasa hingga mati kan kak :)

    ReplyDelete
  2. Agama ini jadi faktor penting pertumbuhan anak yg kelak akan jadi orang bener atau 1/2 bener

    ReplyDelete
    Replies
    1. ya ampun, komentarmu, loh, Mas, keren gitu :p

      Delete
  3. nyimak dulu ya gan,intinya menurut saya agaman memang sangat penting khususnya bagi mereka yang berkebutuhan khusus..

    ReplyDelete
  4. Sangat Bermanfaat Artikel Yang Di Posting , Kunjungi Juga Ya Blogger Saya Tentang Macam – Macam Usaha di Indonesia Agar Menjadi Sukses hanya di https://primapengusahamuda.blogspot.co.id/

    ReplyDelete

Jangan Lupa Tinggalkan Komentarnya Gan