October 22, 2016

Meluruskan Niat




Kemarin, sahabat-sahabat seperjuangan di UIN Malang mengirimkan beberapa photo ketika mereka yudisium, besok insha Allah mereka semua akan diwisuda. Di kelas kami, hanya 5 orang yang belum bisa wisuda karena alasan masing-masing. Sempat berkaca-kaca melihat photo-photo mereka, sempat tidak ikhlas mengapa saya tidak bisa bersama-sama dengan mereka kemarin dan esok hari. Seharusnya saya bisa berada di tengah-tengah mereka, wisuda bareng, karena kami memulai semuanya secara bersama-sama dan seharusnya kami bisa mengakhiri semuanya berbarengan. Saya sempat tertegun lama ketika selesai shalat, kemudian mengelus dada yang gamang, hingga akhirnya saya kembali menata diri, kembali menata niat yang mungkin saja salah. Harusnya saya bisa lebih ikhlas dalam menjalani semua ini.

Rencana saya untuk wisuda bulan ini pupus, bukan karena kesalahan orang lain, tapi karena saya belum mampu mengatur waktu dengan baik, antara keluarga dan juga pendidikan. Memang, ada beberapa hal yang tidak mungkin untuk saya tinggalkan, sehingga rencana saya ke Malang untuk bertemu dengan Dosen Pembimbing harus tertunda lama. Saya pun berusaha mengikhlaskan itu semua, karena saya percaya bahwa selalu ada hikmah dari setiap kejadian.

Ada bulir-bulir hangat yang menggumpal di ujung sana,

Sahabat-sahabatku, saya ingin sekali hadir di hari bahagia kalian kemarin, namun kondisi belum memungkinkan, karena bidadariku sedang tidak mungkin untuk ditinggal. Meski demikian, rindu ini ingin sekali bertemu dengan kalian, karena entah kapan lagi kita akan bertemu jika bukan di saat wisuda, tidak ada yang tahu. Setelah wisuda, masing-masing akan membuka lembar cerita baru dengan semangat perjuangan baru. Saya selalu berdoa, semoga kita semua diberi lindungan oleh Allah SWT, menjadi manusia-manusia yang bisa memberi manfaat. Karena hakikatnya cinta adalah ketika doa terus dipanjatkan meski wajah tak mampu bersua.

Sahabat-sahabatku, meski jarak memisahkan kita, namun cerita-cerita tentang kalian akan tetap saya nantikan.

Perjalanan hidup memang tidak pernah ada yang tahu, Allah selalu memiliki kejutan-kejutan indah untuk hambaNya, kita hanya perlu melakukan yang terbaik, selebihnya biarlah Ia yang mengatur mana yang memang baik untuk hambaNya.

Saat ini, saya sedang mendampingi istri saya yang sedang sakit. Sejak pernikahan kami, dia memang sering sakit-sakitan, mulai dari sekedar batuk, pusing, sempat masuk IGD, sakit persendian, pernah juga dirawat di Rumah Sakit beberapa hari karena gangguan pernapasan, dan pernah juga ada inflamasi di kakinya. Hingga saat ini, dia masih belum benar-benar pulih. Maka waktu saya memang banyak dihabiskan menemani istri hingga pulih. Beberapa kali rencana saya untuk bimbingan Tesis harus diundur karena harus menemani istri hingga pulih. Saya selalu berusaha untuk tetap ikhlas, Allah sedang memberi saya waktu lebih lama untuk bersama istri saya, Allah memberi waktu bagi saya untuk memberi pelayanan terbaik ketika kondisi istri sedang tidak baik.

Tesis memang sudah selesai saya tulis sejak 1 bulan lalu, saya hanya butuh bertemu untuk mengajukan draft tesis yang sudah selesai, berharap akan segera disetujui,tapi Allah memberi saya waktu lebih lama untuk menyelesaikan pendidikan S2 ini. Allah sedang menyiapkan rencana yang indah bagi saya, saya percaya itu, asal saya berusaha lebih giat lagi.

Usaha yang saya lakukan saat ini adalah “meluruskan niat”, harusnya doa-doa yang selama ini saya panjatkan haruslah tulus. Seperti saat ini, saya terus berdoa demi kesembuhan istri saya, namun kadang doa-doa yang dirapal tak sepenuhnya ikhlas. Kadang doa yang saya pinta hanya sebatas menginginkan ia segera pulih, agar saya bisa segera bisa menyelesaikan pendidikan saya dengan baik, bukan agar dia bisa benar-benar sehat dan menjalani kehidupan lebih baik lagi. Maka disinilah pentingnya kembali menata niat dalam berdoa. Ikhlas dalam berdoa adalah salah satu kunci di-ijabahnya doa oleh Sang Pencipta.

Kalian tahu siapa yang paling pandai dalam mendesain kehidupan manusia? Tiada lain adalah Allah SWT. Kerap kali hal-hal yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya, tiba-tiba terjadi. Masalah kadang datang silih berganti, disinilah kesiapan kita dalam menghadapi kehidupan diuji olehNya. Apakah mau sabar? Atau malah menyerah? Tentu sabar adalah pilihan terbaik untuk dipilih.

Hidup ini hanya sekali, maka menjalaninya sesuai dengan aturan Allah SWT adalah keharusan. Niat yang ikhlas diperlukan demi memudahkan diri dalam menggapai keridhaanNya. Niat itu seperti surat, salah tulis alamat akan sampai salah tempat. Jangan pernah lelah untuk istiqamah di jalanNya, meski Ia setia memberi cobaan demi cobaan hambaNya, itulah bagian dari wujud cintaNya.

Luruskan niat, segala yang kita lakukan tidak akan bernilai jika niat itu sudah salah.

Duhai Engkau yang menguasai hati, tetapkan hati ini di jalanMu, jangan biarkan kami lalai dalam taat kepadaMu.

Duhai Engkau yang segala Maha, berilah kesabaran sebagai bekal kami dalam menjalani kehendakMu.

Duhai Engkau yang Maha Cinta, tanamkanlah cinta padaku dan istriku, agar kami bisa bersama-sama berjuang menuju surgaMu.

8 comments:

  1. ditunggu tulisan lainnya ya...

    ReplyDelete
  2. Jangan nyerah yah..
    mungkin gua harus ngulang apa yang dibilang mama gua dulu..
    "gapapa nak..
    yang penting kamu lulus.."
    So, tetep semangat

    ReplyDelete
  3. Semangat... insyaAllah berbuah manis mas.
    niat memang merupakan hal yang paling penting

    ReplyDelete

Jangan Lupa Tinggalkan Komentarnya Gan