October 24, 2017

Krisis Spiritual




Dalam sebuah kelas, saya bertanya ke mahasiswa “Ada yang tahu arti surat Al Fatihah dari awal sampai akhir?” suasana kelas langsung hening.

Suasana kelas mulai riuh dengan suara ketika saya membaca ayat demi ayat hingga sampai pada ayat “Iyyaka na’budu waiyya kanasta’in”, suara-suara mulau melemah, hanya sedikit yang bersuara. Ada yang seolah menerawang sambil menatap langit-langit kelas, ada yang berbisik lirih dengan teman di sebelahnya, dan ada yang hanya diam memaku. Saya melanjutkan ayat selanjutnya “Ihdinassirathal mustaqim, sirathalladzina an’amta ‘alaihim ghoiril maghduubi ‘alaihim waladhdhallin,” suasana kelas hening tanpa suara.

Beberapa hari selanjutnya, saya menanyakan pertanyaan yang sama ke beberapa kelas. Ada kurang lebih 180 lebih mahasiswa di kelas-kelas yang saya ampu, hasilnya sama. Hanya tiga ayat pertama yang mereka bisa, selebihnya mereka mulai kesulitan untuk menjawab artinya. Saya menatap mereka lekat-lekat sambil bertanya,

“Sejak kapan kalian hafal surat Al Fatihah?” tidak ada jawaban.

Untuk beberapa saat, suasana kelas masih hening tanpa suara, saya tersenyum dan mulai melanjutkan kegiatan pembelajaran hingga usai.

Ketika sampai di rumah, saya merenung cukup lama, memikirkan bagaimana kondisi mahasiswa-mahasiswa yang saya ampu di Kampus. Mereka muslim, mereka adalah generasi muda harapan bangsa ini, mereka tumbuh di lingkungan muslim, tapi mereka tidak banyak mengerti tentang makna bacaan-bacaan dari rentetan ibadah yang dilakukan. Mereka bahkan banyak yang tidak tahu arti doa-doa yang selama ini mereka haturkan pada Allah.

Jika melihat kondisi ini, kita sedang berhadapan dengan generasi muda muslim yang mengalami “krisis spiritual”. Masalah ini tidak hanya berhenti sampai disini. Selain tidak paham akan makna bacaan-bacaan ibadah yang dibaca, generasi muslim banyak yang tidak bisa membaca Al Qur’an.

Saya mengajar di sebuah perguruan tinggi Islam swasta. Setiap tahunnya, ada sekitar 2500 mahasiswa baru yang masuk. Dari jumlah tersebut, ada lebih dari 900 mahasiswa yang tidak bisa membaca Al Qur’an. Ada yang bahkan belum bisa membedakan huruf-huruf hijaiyah, padahal usia mereka sudah 17 tahunan. Jika kondisi kampus Islam saja seperti ini, bagaimana dengan kampus-kampus umum lainnya?

Kondisi seperti ini tidak bisa dibiarkan, kita semua harus memiliki kepedulian akan hal ini. Ini bukan hanya sekedar tanggung jawab para ustadz/ustadzah, para kiyai, para santri, melainkan adalah tanggung jawab bersama. Semua harus memiliki kesadaran bahwa hal ini adalah hal yang sangat penting, baik dari lingkungan keluarga, masyarakat, sekolah, perguruan tinggi dll. Semua harus bersinergi. Karena jika dibiarkan, generasi ini akan menjadi generasi yang abai dengan agamanya, abai dengan Al Quran yang seharusnya menjadi petunjuk, dan tidak memiliki kesadaran untuk beribadah.

Jika Anda adalah seorang Ayah, Ibu, maka pastikan anak-anak Anda bisa membaca Al Quran dengan baik dan benar. Pastikan mereka tumbuh menjadi generasi muslim yang cinta kepada Al Quran, pastikan mereka paham dengan makna bacaan-bacaan ibadah yang mereka lakukan. Jangan biarkan mereka abai dengan Al Qur’an. Jika mereka tumbuh bersama Al Qur’an, maka mereka akan tumbuh menjadi anak-anak yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tapi juga cerdas secara spiritual.

Jika sampai hari ini Anda belum bisa membaca Al Qur’an, belum paham dengan makna ibadah yang selama ini dilakukan, maka luangkanlah waktu untuk kembali belajar dalam rangka membenahi hubungan antara hamba dan Sang Pencipta. Luangkan waktu untuk mengkaji ayat-ayat Allah, Anda akan merasakan bahagia yang sesungguhnya ketika bencengkerama dengan Allah dan paham akan apa yang kamu baca. Karena tidak ada bahagia yang melebihi kebahagiaan ketika dekat dengan Allah SWT.

Perhatikan firman Allah yang artinya,

“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah); mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. mereka Itulah orang-orang yang lalai.”  (Q.S. Al-A’raaf: 179)

Semoga Allah memberi rahmat bagi kita semua, amin.

October 22, 2017

Syahidah Itu Bernama Sumayyah



Melalui lembaran-lembaran ini, kita akan menelusuri sebuah kisah tentang kekuatan sabar dalam menghadapi ujian hidup. Kisah yang selalu diulang-ulang setiap hari, yakni kisah pertentangan antara iman dan kekafiran.

Kita akan menjumpai wanita pertama yang meninggal sebagai syuhada dalam sejarah Islam. Dia adalah wanita suci yang telah menorehkan catatan keabadian dalam lembaran sejarah dan Islam telah menetapkannya pada kedudukan yang sangat tinggi.

Dia adalah Sumayyah binti Khabat ra. yang mendapat kabar gembira dari Rasulullah Saw akan masuk surga. Sungguh, itu merupakan kabar gembira yang membuat segala bentuk penderitaan dan siksaaan terasa manis dan menyenangkan.

Kisah ini diawali dengan kedatangan Yasir, ayah ‘Ammar, dari Yaman bersama dua saudaranya Al-Harits dan Malik ke Kota Makkah untuk mencari saudara mereka yang menghilang dalam beberapa tahun terakhir. Sejak itu, mereka terus mencari ke berbagai pelosok negeri hingga sampai di Kota Makkah. Tapi, di Kota ini pun mereka tidak menemukannya. Karena itu, Al-Harits dan Malik memutuskan pulang ke Yaman, sedangkan Yasir tetap tinggal di Makkah, karena merasakan suasana bahagia dan gairah yang aneh, sehingga dia memilih untuk tinggal di Makkah. Yasir tidak tahu bahwa dengan keputusannya itu, dia telah masuk gerbang sejarah baru yang terang benderang.

Ada tradisi yang berlaku di masyarakat Arab, apabila orang asing ingin tinggal di suatu negeri, maka ia harus mengikat perjanjian dengan salah seorang tokoh terkenal di kota tersebut untuk melindungi dirinya dari segala bentuk gangguan masyarakat dan dapat hidup dengan tenang dan nyaman di kota tersebut.

Yasir mengikat perjanjian dengan Abu Hudzaifah bil Al-Mughirah Al-Makhzumi. Tokoh terkemuka Makkah ini sangat menyukai Yasir karena sifat-sifatnya yang baik dan tindak tanduknya yang menyenangkan, serta latar belakang keluarganya yang terhormat. Abu Hudzaifah ingin memperkuat hubungannya dengan Yasir, sehingga dia menikahkan seorang budak perempuannya yang bernama Sumayyah binti Khabat ra.

Dari pernikahannya dengan Sumayyah binti Khabat, Yasir dikaruniai seorang putra yang penuh berkah bernama ‘Ammar bin Yasir. Kebahagiaan mereka semakin sempurna, ketika Abu Hudzaifah memutuskan untuk memerdekakan ‘Ammar dari statusnya sebagai budak. Tidak lama kemudian, Abu Hudzaifah meninggal dunia.

Suatu ketika, ‘Ammar ra. mendengar keberadaan risalah Muhammad saw., maka ia segera membuka hatinya untuk menerima seruan iman. ‘Ammar bergegas ke rumah Al-Arqam dengan langkah-langkah ringan dan cepat seakan-akan sedang mengejar detak jarum jam. Setibanya di rumah Al-Arqam dan melihat Nabi saw., serta mendengarkan wahyu yang disampaikan olehnya, maka hatinya seperti terbang melayang-layang di angkasa karena merasakan kebahagiaan yang luar biasa.

‘Ammar pulang ke rumahnya dengan langkah yang cepat untuk merangkul tangan kedua orangtuanya dan membawa mereka menuju surga dunia yang akan membuahkan kenikmatan abadi di surga akhirat. Setibanya di rumah, ‘Ammar ra. mengucapkan salam kepada kedua orangtuanya dan membacakan ayat-ayat Al-Qur’an. Tidak perlu menunggu waktu lama, hati-hati yang bersih dan suci itu langsung terbuka dan sangat senang mendengar firman Allah swt. Yasir dan Sumayyah merasakan keberadaan cahaya yang menyinari seluruh penjuru jagat raya, sehingga saat itu juga keduanya masuk ke dalam Islam.

Tidak lama berselang, berita keislaman keluarga Yasir tersebar dan sampai di telinga bani Makhzum. Mereka marah besar dengan kejadian itu sehingga langsung mendatangi keluarga yasir dan menyiksa mereka sekeras-kerasnya.

Ketika terik matahari memuncak, mereka menyeret keluarga Yasir ke tengah lapang yang panas dan menyuruh mereka memakai baju besi. Mereka tidak diberi minum dan tetap dibiarkan terpanggang oleh sinar matahari. Mereka menerima penyiksaan yang bermacam-macam dari bani Makhzum. Ketika benar-benar telah kepayahan, mereka dibawa pulang ke rumah, kemudian disiksa kembali pada hari berikutnya.

Sumayyah ra. adalah salah satu orang pertama yang menyatakan keislamannya secara terbuka dan menerima penyiksaan dengan tabah demi tetap bertahan di Jalan Allah ‘azza wajalla. Dia berada di garis depan wanita-wanita mukmin yang tulus dan segera menerima Islam, sehingga meraih kehormatan sebagai orang-orang pertama yang masuk Islam dan mendapat kabar gembira yang sangat mulia, yakni masuk surga.

Orang-orang musyrik terus menyiksa Sumayya, suaminya (Yasir) dan putranya (‘Ammar). Tapi, mereka menerimanya dengan tabah dan tegar karena yakin bahwa siksaan itu diterima karena mereka bertahan di jalan Allah swt.

Pada suatu hari, Rasulullah saw. Lewat dan melihat mereka sedang disiksa. Beliau bersabda yang artinya, “Berbahagialah, wahai keluarga ‘Ammar, karena sesungguhnya kalian telah dijanjikan masuk surga.” Allahu Akbar! Semilir angin surga telah menerpa hati mereka hingga menyejukkan bara penyiksaan yang sedang mereka rasakan.

Saat itulah, mereka mulai merasa lebih tenang dan nyaman ketimbang rasa payah karena siksaan yang mereka terima. Mereka menikmati penyiksaan karena bertahan di jalan Allah swt. dan terus merindukan kenikmatan surga sepanjang siang dan malam.

Sahabat wanita agung, Sumayyah ra., tetap tegar dalam menerima siksaan yang bermacam-macam. Tekadnya tidak pernah surut dan iman yang telah mengangkatnya kepada derajat wanita-wanita agung dan sabar tidak pernah melemah.

Sumayyah menjadi orang pertama yang meraih syahadah (mati syahid) dalam sejarah Islam. Tombak pendek dihujamkan pada tempat kehormatannya hingga meregang nyawa. Peristiwa pembunuhan ini terjadi pada tahun 7 Hijrah. Andaikan wanita-wanita saat ini menjadikan perjalanan hidup sabahat wanita yang agung ini sebagai contoh teladan yang diikutinya dalam hal pengorbanan, kesabaran dan ketabahan, tentulah mereka akan menjadi wanita-wanita yang tegar dalam menjalani kehidupan dan memiliki semangat untuk terus mendekatkan diri kepada Allah swt dalam kondisi apapun.

Semoga Allah meridhai Sumayyah ra. dan menjadikan surga Firdaus sebagai tempat persinggahan terakhirnya. 

October 07, 2017

Mewujudkan Generasi Qur'ani


Mengajarkan cinta kepada Al Qur’an bagi anak-anak adalah salah satu tanggung jawab terbesar bagi orang tua. Tidak sedikit generasi muslim yang tidak bisa membaca Al Qur’an. Jika ini dibiarkan, kita akan berhadapan dengan generasi yang asing dengan Al Qur’an. Bagaimana Al Qur’an bisa menjadi panduan hidup jika membacanya saja tidak bisa. Al Qur’an adalah firman Allah swt, yang jika dibaca akan bernilai ibadah, yang jika dikaji dengan saksama, di dalamnya penuh dengan kekuatan yang sangat dahsyat. Menamamkan cinta pada Al Quran sejak dini akan memotivasi mereka untuk menghafal dan belajar bagaimana membaca Al Quran dengan baik dan benar. Mereka yang menjadikan Al Qur’an sebagai panduan hidup akan mendapatkan syafaat di hari akhir nanti.
Nabi Muhammad saw bersabda: “Bacalah Al-Quran, kelak ia akan datang di Hari Kiamat memberi syafaat kepada para pembacanya.” (HR. Muslim).
Salah satu keistimewaan Al Quran adalah diberikan pahala bagi orang yang membacanya. Ibnu Mas'ud berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda, "Siapa yang membaca satu huruf dari Kitab Allah (Al Quran ), ia akan mendapatkan satu kebaikan yang nilainya sama dengan 10 kali ganjaran (pahala). Aku tidak mengatakan alif lam mim itu satu huruf, tetapi alif satu huruf, lam satu huruf, dan mim satu huruf." (HR Tirmidzi).
Memiliki anak-anak yang mencintai Al Quran adalah anugerah tak ternilai. Maka memberikan kesempatan kepada mereka untuk berinteraksi sedini mungkin adalah sebuah keharusan. Al Qur’an adalah petunjuk yang tidak ada keraguan di dalamnya. Demikianlah yang Allah jelaskan di dalam firman-Nya; “Kitab ini tidak ada keraguan padanya, petunjuk mereka yang bertakwa.” (al-Baqarah: 2)
Lalu, bagaimana cara mengajarkan cinta kepada Al Qur’an bagi anak-anak? Ada banyak cara agar anak-anak tumbuh menjadi generasi yang cinta pada Al Quran:

Ajarkan Mereka “Mengapa”
Anak-anak harus mengerti mengapa mereka harus mencintai Al Quran, mengapa hal ini begitu penting bagi mereka? Mengapa mereka harus belajar membaca Al Quran? Anak-anak adalah jiwa-jiwa suci nan polos yang dipenuhi rasa ingin tahu akan hal-hal baru yang mereka temui. Luangkan waktu untuk menjelaskan arti dari surat-surat yang sedang mereka hafal. Dengan memahami artinya, akan menumbuhkan cinta yang dalam kepada Al Quran. Anda bisa membaca terjemahan ayat demi ayat atau membacakan tafsirnya di hadapan mereka.
Jelaskan di hadapan mereka bahwa Al Quran adalah pedoman hidup bagi siapapun yang mendambakan kebahagiaan. Hidup dalam naungan Al Quran adalah hidup dalam naungan kebajikan. Semua itu karena Al Quran adalah sumber ilmu pengetahuan dan juga ajaran agama. Dengan bantuan Al Quranlah, maka seseorang mendapatkan gambaran yang jelas akan eksistensi, nilai, dan tata cara kehidupan yang benar.

Ajarkan mereka “Menghormati”
Jika sejak usia dini anak-anak sudah terbiasa melihat Anda memegang Al Quran dengan penuh hormat, meletakkannya lebih tinggi dari buku-buku yang lain, terbiasa mendengar bacaan Al Quran penuh khusyu, mereka akan memahami bahwa Al Quran adalah kitab yang sangat spesial. Ajarkan mereka untuk menghormati Al Quran, tidak bermain-main atau bahkan meletakkannya sesuka hati. Ajarkan mereka bagaimana seharusnya berinteraksi dengan Al Qur’an.

Ajarkan Al Quran Sejak Dini
Dalam mendidik anak, asupan pertama terbaik bagi jiwa mereka adalah memperdengarkan dan membacakan ayat suci Al Qur’an. Usahakan mereka mulai menghafalkan Al Qur’an sejak dini, per kalimat, lalu per ayat. Jiwa mereka akan tumbuh bersama kesucian Al Qur’an.
            Sel-sel otak mereka yang berjumlah miliaran akan membentuk gugusan sel yang tidak saja rapi tapi juga hidup dan bercahaya. Otak mereka menjadi cerdas secara intelektual dan spiritual. Anak yang demikian inilah yang pantas mewarisi generasi saleh masa lalu dan siap menyongsong gelombang kehidupan masa depan yang penuh dinamika.
Anda bisa memulai menanamkan cinta pada Al Quran dengan cara membacanya di hadapan mereka sejak lahir. Biarkan mereka terbiasa mendengar Al Quran setiap harinya. Bahkan ada penelitian yang merekomendasikan bagi ibu yang hamil untuk membacakan Al Quran bagi bayi yang ada di dalam kandungannya. Anak dalam kandungan pada usia 20 minggu (5 bulan) lebih, sudah bisa menyerap informasi melalui pengalaman-pengalaman stimulasi atau sensasi yang diberikan ibunya. Dengan demikian, bila si ibu membacakan suatu informasi ilmu pengetahuan dengan niat ibadah yang dilanjutkan dengan mengeraskan volume suara, sebenarnya, secara sadar si ibu telah melakukan pengkondisian untuk anak dalam kandungannya. Terlebih lagi bila si ibu memahami segala yang dibacanya, mengekspresikan bacaan tersebut dengan intonasi yang khas sesuai dengan alur cerita, maka sudah barang tentu si anak dalam kandungan hanya akan terangsang pada kondisi ilmiah tersebut. Sungguh aktivitas ini pun akan menjadi kegiatan yang penuh kehangatan sekaligus menyenangkan bagi hubungan ibu dan anak.
            Jika susah untuk membacanya karena kesibukan, maka jangan lupa untuk memutar murattal di rumah. Jadikan Al Qur’an sebagai bagian terpenting yang harus mereka dengar setiap hari. Jika anak sudah memasuki usia sekolah, jadikan Al Quran sebagai bacaan yang mereka dengar sebelum berangkat ke sekolah dan biarkan mereka mendengar bacaan Al Quran sebelum mereka lelap dalam tidur.

Ajarkan Mereka Dengan Penuh Cinta
Jika Anda ingin anak-anak mencintai Al Quran sepenuh hati, maka ajarkan Al Quran kepada mereka dengan penuh cinta. Jangan menghukum mereka karena tidak menghafal sesuai target harian yang ditentukan, atau menghukum mereka karena salah dalam membaca Al Quran. Akan tetapi, beri mereka penghargaan ketika mereka mampu membaca Al Quran dengan baik; ucapkan selamat, beri hadiah dan ingatkan mereka betapa Allah sangat bahagia melihat mereka istiqamah dalam membaca al Quran.
            Bagi seorang Ibu, hendaklah mempersiapkan dirinya sebagai calon guru bagi anak-anaknya kelak. Hendaknya dia bisa mengaji Al Qur’an dengan fasih, sehingga pelajaran pertama dalam membaca Al Qur’an akan didapatkan oleh seorang anak dari mulut ibunya sendiri. Betapa anak sangat terkesan peristiwa bersejarah dalam kehidupannya ini.

Ajarkan Mereka dengan “Cara Mereka”
Setiap orang memiliki cara dan metode belajarnya sendiri. Ada yang lebih senang belajar sendiri, belajar berkelompok, belajar dengan melihat, mendengar atau mengerjakan sesuatu agar sesuatu yang ia pelajari dapat diingat dan dipahaminya dengan baik.
Cobalah untuk menyesuaikan cara Anda mengajarkan Al Quran dengan cara mereka belajar. Bisa jadi cara mereka belajar akan berbeda dengan cara Anda belajar Al Quran. Ingatlah, bahwa Allah menciptakan manusia dengan keunikannya masing-masing. Ketika Anda menemukan cara terbaik anak-anak belajar, maka belajar Al Quran bersama-sama akan lebih menyenangkan.
Ada anak yang suka belajar Al Quran dengan cara mendengarkan. Anak-anak yang seperti ini akan sangat senang dan akan mendapatkan banyak manfaat dari mendengarkan bacaan Al Quran yang sesuai dengan tajwid. Jangan lupa menyiapkan murattal  ketika di mobil, ketika mereka sedang mengerjakan tugas dan lain-lain.
Ada juga anak yang paling suka belajar Al Quran dengan cara menulis per kalimat, per ayat, maupun per surat. Mereka memiliki kemampuan merekam setiap tulisan yang mereka buat. Biarkan mereka membacanya dan izinkan mereka untuk menulis ayat-ayat yang dibaca maupun yang sedang dihapal.
Setiap anak memiliki cara yang berbeda-beda. Beri perhatian pada hal ini, agar Anda tahu bagaimana cara terbaik menanamkan cinta pada Al Quran sejak dini.

Berdoa
Sebagai orangtua, jangan lupa berdoa dengan tulus bagi si buah hati. Mintalah kepada Allah agar Ia menanamkan cinta kepada Al Quran di dalam hati mereka dan menjadikan Al Quran sebagai panduan hidup. Karena hidup tanpa Al Quran bagai berjalan di kegelapan malam.
Wallahu a’lam bisshawab.

October 06, 2017

Kehidupan yang Bahagia

Sesungguhnya seorang mukmin sejati memiliki keyakinan yang tinggi bahwa tidak ada kebahagiaan ataupun ketenangan bagi umat manusia, tidak juga berkah dan kesucian yang selaras dengan hukum alam dan fitrah kehidupan, kecuali bila manusia mau kembali kepada Allah dengan mengkaji dan mengaplikasikan ajaran yang ada di kitab-Nya, yang merupakan pedoman bagi kehidupan manusia. Hanya kitab-Nya yang mampu menuntun manusia menjadi manusia ideal yang memiliki prinsip hidup yang sempurna serta berakhlak mulia. Hal ini senada dengan firman-Nya.
“Sesungguhnya Al Quran ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih Lurus dan memberi khabar gembira kepada orang-orang Mu'min yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar.” (al-Israa’: 9)
Al Quran adalah pedoman hidup bagi siapapun yang mendambakan kebahagiaan. Hidup dalam naungan Al Quran adalah hidup dalam naungan kebajikan. Semua itu karena Al Quran adalah sumber ilmu pengetahuan dan juga ajaran agama. Dengan bantuan Al Quranlah, maka seseorang mendapatkan gambaran yang jelas akan eksistensi, nilai, dan tata cara kehidupan yang benar.
Kebahagiaan yang merupakan bagian dari kehidupan dalam naungan Al Quran bukanlah kebahagiaan yang dikarenakan banyaknya harta, tingginya jabatan, banyaknya anak, tercapainya suatu kepentingan ataupun karena mendapatkan semua materi duniawi yang menggiurkan. Kebahagiaan adalah sesuatu yang bersifat kejiwaan dan tidak bisa divisualisasikan ataupun diukur dengan suatu alat ukur tertentu ataupun dibeli dengan uang. Sesungguhnya kebahagiaan adalah sesuatu yang dirasakan oleh individu manusia dalam hati. Ia adalah cerminan dari kesucian diri, ketenangan hati, kelapangan dada, dan nyamannya perasaan.
Kebagaiaan adalah sesuatu yang bersumber dari dalam diri manusia dan bukan berasal dari luar dirinya. Berdasar hal inilah, maka Allah menjanjikan orang-orang yang selalu berbuat baik dan hatinya selalu penuh keimanan kepada Allah suatu kehidupan yang bahagia. Hal tersebut dipahami dari firman-Nya,
“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam Keadaan beriman, Maka Sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan Sesungguhnya akan Kami beri Balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (an-Nahl: 97)
Sesungguhnya kebahagiaan yang diterima seseorang di dunia tidak akan mengurangi sedikit pun kebahagiaan yang kelak akan diterimanya di akhirat. Imam Ghazali mendiskripsikan kebahagiaan akhirat dengan paparannya,
“Ia adalah kebahagiaan yang abadi dan bukanlah bersifat semu dan sementara. Ia adalah kebahagiaan yang penuh dengan kenikmatan dan bukan pengorbanan, ia adalah kebahagiaan yang penuh dengan  keceriaan dan bukan kesedihan, kebahagiaan yang penuh dengan kekayaan dan bukan kemiskinan, kesempurnaan dan tiada cacat, kemuliaan dan bukan kehinaan. Secara umum, kebahagiaan ukhrawi adalah kebahagian yang selalu didambakan setiap manusia dan ia bersifat abadi dan tidak terbatas oleh ruang dan waktu.” Hal ini senada dengan firman-Nya,
“Adapun orang-orang yang berbahagia, Maka tempatnya di dalam syurga, mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Tuhanmu menghendaki (yang lain); sebagai karunia yang tiada putus-putusnya.” (Huud: 108)
Al Quran sangat peduli dengan kebahagiaan manusia, baik itu kebahagiaan dunia maupun kebahagiaan akhiratnya dan menunjukkan jalannya dengan konsepnya yang seimbang. Konsep yang membuat manusia tetap mendapatkan kebahagiaan di akhirat dengan tidak mengharamkannya untuk mendapatkan bagian dari kebahagiaannya di dunia. Masing-masing kebahagiaan yang ada memiliki investasinya tersendiri. Dengan demikian, manusia tidak perlu mengasingkan diri dari dunianya yang justru membuat dirinya menjadi lemah dalam menggapai kebahagian akhiratnya.
Al Quran menekankan bahwa siapapun yang menginginkan kebahagiaan, ketenangan hati, dan introspeksi dalam diri maka ada baiknya dia kembali kepada Al Quran yang merupakan konsep yang telah Allah tetapkan bagi manusia, yakni bagi kehidupan dunianya dan juga interaksinya dengan sesamanya yang semuanya itu selaras dengan hukum alam secara keseluruhannya.
Kebahagian sejati hanya akan didapatkan bagi siapa pun yang mengaplikasikan ajaran dalam Al Quran. Sesungguhnya ajarannya akan menumbuhkan ketenangan dalam hati, menambah keimanan kepada-Nya, memperbaiki ajaran agama, membebaskan diri dari segala penyakit hati, keraguan, kecemasan dan depresi, melepaskan diri dari menyekutukan-Nya dan bersikap pongah. Hanya dengan panduan Al Quranlah seseorang mampu menyatukan hati kepada Allah hingga ia akan merasa tenang, aman, dan damai dan ia pun akan selalu dilimpahi keridhaan-Nya.
“Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa” (al-Baqarah: 2)
Al Quran hendaknya menjadi rujukan dalam kehidupan. Padanya tersimpan segala petunjuk. Dalam susah, apa kata Al Quran? Dalam senang, apa kata Al Quran? Dalam gundah, apa kata Al Quran? Dalam tawa, apa kata Al Quran?
Dengan berpedoman kepada Al Quran, maka seseorang dapat melepaskan ketergantungannya pada penyakit sosialnya yang menyusup dalam hatinya. Dengan demikian, ia akan selalu merasakan ketenangan dan kedamaian dan ia pun bisa hidup di tengah masyarakatnya dengan penuh ketentraman. Al Quran pun merupakan satu bentuk rahmat bagi siapa pun yang mengimaninya dan membenarkannya. Ia merupakan penuntun kepada keimanan kepada Allah swt. dan juga kepada kebaikan. Maka, tak sulit bagi seseorang untuk bisa masuk ke dalam surga-Nya dan hidup di dalamnya dengan kehidupan yang abadi dan bahagia.

Akhirnya, pelajarilah Al Quran dengan hati yang ikhlas dan sungguh-sungguh. Mintalah kepada Allah agar diberi taufiq untuk bisa memahaminya dan mengamalkannya dalam kehidupan. Karena, hidup tanpa Al Quran bagai berjalan di kegelapan malam.