October 22, 2017

Syahidah Itu Bernama Sumayyah



Melalui lembaran-lembaran ini, kita akan menelusuri sebuah kisah tentang kekuatan sabar dalam menghadapi ujian hidup. Kisah yang selalu diulang-ulang setiap hari, yakni kisah pertentangan antara iman dan kekafiran.

Kita akan menjumpai wanita pertama yang meninggal sebagai syuhada dalam sejarah Islam. Dia adalah wanita suci yang telah menorehkan catatan keabadian dalam lembaran sejarah dan Islam telah menetapkannya pada kedudukan yang sangat tinggi.

Dia adalah Sumayyah binti Khabat ra. yang mendapat kabar gembira dari Rasulullah Saw akan masuk surga. Sungguh, itu merupakan kabar gembira yang membuat segala bentuk penderitaan dan siksaaan terasa manis dan menyenangkan.

Kisah ini diawali dengan kedatangan Yasir, ayah ‘Ammar, dari Yaman bersama dua saudaranya Al-Harits dan Malik ke Kota Makkah untuk mencari saudara mereka yang menghilang dalam beberapa tahun terakhir. Sejak itu, mereka terus mencari ke berbagai pelosok negeri hingga sampai di Kota Makkah. Tapi, di Kota ini pun mereka tidak menemukannya. Karena itu, Al-Harits dan Malik memutuskan pulang ke Yaman, sedangkan Yasir tetap tinggal di Makkah, karena merasakan suasana bahagia dan gairah yang aneh, sehingga dia memilih untuk tinggal di Makkah. Yasir tidak tahu bahwa dengan keputusannya itu, dia telah masuk gerbang sejarah baru yang terang benderang.

Ada tradisi yang berlaku di masyarakat Arab, apabila orang asing ingin tinggal di suatu negeri, maka ia harus mengikat perjanjian dengan salah seorang tokoh terkenal di kota tersebut untuk melindungi dirinya dari segala bentuk gangguan masyarakat dan dapat hidup dengan tenang dan nyaman di kota tersebut.

Yasir mengikat perjanjian dengan Abu Hudzaifah bil Al-Mughirah Al-Makhzumi. Tokoh terkemuka Makkah ini sangat menyukai Yasir karena sifat-sifatnya yang baik dan tindak tanduknya yang menyenangkan, serta latar belakang keluarganya yang terhormat. Abu Hudzaifah ingin memperkuat hubungannya dengan Yasir, sehingga dia menikahkan seorang budak perempuannya yang bernama Sumayyah binti Khabat ra.

Dari pernikahannya dengan Sumayyah binti Khabat, Yasir dikaruniai seorang putra yang penuh berkah bernama ‘Ammar bin Yasir. Kebahagiaan mereka semakin sempurna, ketika Abu Hudzaifah memutuskan untuk memerdekakan ‘Ammar dari statusnya sebagai budak. Tidak lama kemudian, Abu Hudzaifah meninggal dunia.

Suatu ketika, ‘Ammar ra. mendengar keberadaan risalah Muhammad saw., maka ia segera membuka hatinya untuk menerima seruan iman. ‘Ammar bergegas ke rumah Al-Arqam dengan langkah-langkah ringan dan cepat seakan-akan sedang mengejar detak jarum jam. Setibanya di rumah Al-Arqam dan melihat Nabi saw., serta mendengarkan wahyu yang disampaikan olehnya, maka hatinya seperti terbang melayang-layang di angkasa karena merasakan kebahagiaan yang luar biasa.

‘Ammar pulang ke rumahnya dengan langkah yang cepat untuk merangkul tangan kedua orangtuanya dan membawa mereka menuju surga dunia yang akan membuahkan kenikmatan abadi di surga akhirat. Setibanya di rumah, ‘Ammar ra. mengucapkan salam kepada kedua orangtuanya dan membacakan ayat-ayat Al-Qur’an. Tidak perlu menunggu waktu lama, hati-hati yang bersih dan suci itu langsung terbuka dan sangat senang mendengar firman Allah swt. Yasir dan Sumayyah merasakan keberadaan cahaya yang menyinari seluruh penjuru jagat raya, sehingga saat itu juga keduanya masuk ke dalam Islam.

Tidak lama berselang, berita keislaman keluarga Yasir tersebar dan sampai di telinga bani Makhzum. Mereka marah besar dengan kejadian itu sehingga langsung mendatangi keluarga yasir dan menyiksa mereka sekeras-kerasnya.

Ketika terik matahari memuncak, mereka menyeret keluarga Yasir ke tengah lapang yang panas dan menyuruh mereka memakai baju besi. Mereka tidak diberi minum dan tetap dibiarkan terpanggang oleh sinar matahari. Mereka menerima penyiksaan yang bermacam-macam dari bani Makhzum. Ketika benar-benar telah kepayahan, mereka dibawa pulang ke rumah, kemudian disiksa kembali pada hari berikutnya.

Sumayyah ra. adalah salah satu orang pertama yang menyatakan keislamannya secara terbuka dan menerima penyiksaan dengan tabah demi tetap bertahan di Jalan Allah ‘azza wajalla. Dia berada di garis depan wanita-wanita mukmin yang tulus dan segera menerima Islam, sehingga meraih kehormatan sebagai orang-orang pertama yang masuk Islam dan mendapat kabar gembira yang sangat mulia, yakni masuk surga.

Orang-orang musyrik terus menyiksa Sumayya, suaminya (Yasir) dan putranya (‘Ammar). Tapi, mereka menerimanya dengan tabah dan tegar karena yakin bahwa siksaan itu diterima karena mereka bertahan di jalan Allah swt.

Pada suatu hari, Rasulullah saw. Lewat dan melihat mereka sedang disiksa. Beliau bersabda yang artinya, “Berbahagialah, wahai keluarga ‘Ammar, karena sesungguhnya kalian telah dijanjikan masuk surga.” Allahu Akbar! Semilir angin surga telah menerpa hati mereka hingga menyejukkan bara penyiksaan yang sedang mereka rasakan.

Saat itulah, mereka mulai merasa lebih tenang dan nyaman ketimbang rasa payah karena siksaan yang mereka terima. Mereka menikmati penyiksaan karena bertahan di jalan Allah swt. dan terus merindukan kenikmatan surga sepanjang siang dan malam.

Sahabat wanita agung, Sumayyah ra., tetap tegar dalam menerima siksaan yang bermacam-macam. Tekadnya tidak pernah surut dan iman yang telah mengangkatnya kepada derajat wanita-wanita agung dan sabar tidak pernah melemah.

Sumayyah menjadi orang pertama yang meraih syahadah (mati syahid) dalam sejarah Islam. Tombak pendek dihujamkan pada tempat kehormatannya hingga meregang nyawa. Peristiwa pembunuhan ini terjadi pada tahun 7 Hijrah. Andaikan wanita-wanita saat ini menjadikan perjalanan hidup sabahat wanita yang agung ini sebagai contoh teladan yang diikutinya dalam hal pengorbanan, kesabaran dan ketabahan, tentulah mereka akan menjadi wanita-wanita yang tegar dalam menjalani kehidupan dan memiliki semangat untuk terus mendekatkan diri kepada Allah swt dalam kondisi apapun.

Semoga Allah meridhai Sumayyah ra. dan menjadikan surga Firdaus sebagai tempat persinggahan terakhirnya. 

No comments:

Post a Comment

Jangan Lupa Tinggalkan Komentarnya Gan